{"title":"Elevation Records","description":"\u003cp\u003e\u003cmeta charset=\"utf-8\"\u003e\u003cspan\u003eElevation Records is \u003c\/span\u003e\u003cmark class=\"HxTRcb\"\u003e\u003c!--qkimaf zkPOKe_k\/HugV6--\u003e\u003c!--cqw1tb zkPOKe_k\/HugV6--\u003ean independent Indonesian record label and publishing house founded in December 2012 by journalist and academic \u003cspan class=\"\"\u003e\u003ca class=\"H23r4e\" rel=\"noopener\" href=\"https:\/\/id.linkedin.com\/in\/taufiq-rahman-a92b151a\" target=\"_blank\"\u003eTaufiq Rahman\u003c\/a\u003e\u003c!--TgQPHd|||[[\u0026quot;https:\/\/id.linkedin.com\/in\/taufiq-rahman-a92b151a\u0026quot;,null,null,[null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,[{\u0026quot;1218\u0026quot;:[16]}]],16,null,\u0026quot;Taufiq rahman - Editor In Chief at The Jakarta Post - LinkedIn\u0026quot;,\u0026quot;Founder. Elevation Books\/Records. Des 2012 - Saat ini 13 tahun 9 tahun. Greater Jakarta Area, Indonesia. Elevation Records is an independent record label specializing on producing left-of-the-dial and experimental indie music as well as reissuing some classic Indonesian albums in vinyl format. In 2016, Elevation Records expanded its operation by publishing quality books on music and pop culture. Lecturer. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jun 2010 - Saat ini 16 tahun 3 tahun. Greater Jakarta Area, Indonesia. Under the Political Science Department, I mostly teach Political Economy for undergraduate students as well as supervising their thesis work.\u0026quot;,\u0026quot;https:\/\/encrypted-tbn1.gstatic.com\/images?q\\u003dtbn:ANd9GcQQNQOR4RN5v1xafg3Rw_j2u4QtWKUuKS1mu96rN4F3HtDDrcxe8b4PLmEFNcXJvB_4iE_t6jwkIivcFFk\u0026quot;,\u0026quot;LinkedIn\u0026quot;,\u0026quot;https:\/\/encrypted-tbn0.gstatic.com\/faviconV2?url\\u003dhttps:\/\/id.linkedin.com\\u0026client\\u003dAIM\\u0026size\\u003d128\\u0026type\\u003dFAVICON\\u0026fallback_opts\\u003dTYPE,SIZE,URL\u0026quot;,[[1787055056013743,86915443,908799122],null,null,null,null,[[2,0,0,7]]],null,\u0026quot;a36506f3-8983-48a8-bd94-c3484d04999f\u0026quot;]]--\u003e\u003c\/span\u003e\u003c!--TgQPHd|||[]--\u003e\u003c\/mark\u003e. Based in the Jakarta area, the label focuses on counter-culture, left-of-the-dial experimental indie music, and vinyl reissues of classic Indonesian albums.\u003c\/p\u003e","products":[{"product_id":"elevation-records-new-dawn-fades","title":"Elevation Records - New Dawn Fades","description":"\u003cp\u003e\u003cspan\u003eJudul buku ini adalah New Dawn Fades: Panduan Mendengarkan Musik Awal Milenium. Tentu saja ini bukan buku panduan secara teknis. Seperti panduan beribadah, atau panduan lainnya. Namun buku ini “memandu” pembacanya menelusuri musik-musik berkualitas yang tak muncul di permukaan. Pembaca akan dibawa ke suatu yang lebih dalam tentang belantika musik Indonesia maupun mancanegara. Seperti Arcade Fire, Real Estate, dan masih banyak lagi, termasuk musisi-musisi timur tengah yang sama sekali layak dengar.\u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003e\u003cspan\u003eBuku ini berisi 151 artikel, yang ditulis oleh tiga penulis: Taufiq Rahman, Harlan Boer, dan Adi Renaldi. Selain mengulas album-album berkualitas dari band berkualitas yang tak tenar, buku ini juga menghadirkan daftar album dua dekade awal abad 21. Seperti The Strokes. \u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003e\u003cspan\u003eMelalui buku ini, penulis pun sangat berani memberikan daftar musisi yang seharusnya pensiun dari dunia musik. Menurutnya, musisi-musisi tersebut menciptakan musik atau lagu yang kuno yang artinya tidak ada hal baru yang diberikan oleh musisi tersebut. Buku ini cocok bagi siapapun yang peduli dengan kesehatan telinga dengan cara mendengarkan musik. Pembaca akan merasa dicerahkan bahwa masih banyak harta karun yang terpendam.\u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e","brand":"Elevation Records","offers":[{"title":"Default Title","offer_id":50544265625839,"sku":null,"price":50000.0,"currency_code":"IDR","in_stock":true}],"thumbnail_url":"\/\/cdn.shopify.com\/s\/files\/1\/0699\/0240\/1775\/files\/buku-new-dawn-fades-grimlocstore-1-20260105032923.webp?v=1787052582"},{"product_id":"elevation-records-wonderland-memoar-dari-selatan-yogyakarta","title":"Elevation Records - Wonderland, Memoar dari Selatan Yogyakarta","description":"\u003cp\u003e\u003cspan\u003eWonderland: Memoar Dari Selatan Yogyakarta merupakan buku kedua dari seri C-45 yang diterbitkan oleh Elevation Books. Diambil dari nama salah satu jenis kaset pita magnetik, Seri C-45 merupakan terbitan Elevation Books yang fokus membahas sebuah album musik penuh (LP) secara komprehensif. Terbitan pertama seri C-45 ini adalah buku Demi Masa, Kapsul Waktu dan Nostalgia Radikal karya Fajar Nugraha. Di buku itu Fajar mengupas tuntas album Demi Masa milik rapper kawakan Herry “Ucok” Sutresna alias Morgue Vanguard dan Doyz.\u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003e\u003cspan\u003eAda hal yang berbeda dari buku Fajar dan Aris. Jika Fajar meletakkan dirinya berjarak antara seorang pengulas musik dan album musik yang diulas sehingga menghasilkan buku ulasan musik yang objektif, maka Aris menempatkan dirinya sebagai “orang dalam” dari album yang ia ulas. Hal ini karena album yang Aris bahas di seri kedua C-45 ini merupakan album Self Titled dari Auretté and The Polska Seeking Carnival (AATPSC). Band di mana Aris menjadi penabuh drum dan penulis lirik.\u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003e\u003cspan\u003eAlih-alih menulis sebuah ulasan kritis yang objektif, di  Wonderland: Memoar Dari Selatan Yogyakarta Aris menulis sebuah memoar proses kreatif pembuatan album perdana AATPSC tersebut. Secara runut dan lengkap Aris menjabarkan mulai dari sejarah terbentuknya band asal Yogyakarta ini, hingga proses kreatif yang terjadi saat menciptakan album pertama AATPSC.\u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e","brand":"Elevation Records","offers":[{"title":"Default Title","offer_id":50544267788527,"sku":null,"price":35000.0,"currency_code":"IDR","in_stock":true}],"thumbnail_url":"\/\/cdn.shopify.com\/s\/files\/1\/0699\/0240\/1775\/files\/buku-memoar-dari-selatan-yogyakarta-grimlocstore-1-20260105032925.webp?v=1787052084"},{"product_id":"elevation-records-this-album-could-be-yourlife-50-album-musik-terbaik-indonesia-1955-2015-copy","title":"Elevation Records - This Album Could Be Yourlife: 50 Album Musik Terbaik Indonesia 1955-2015","description":"\u003cp\u003e\u003cspan\u003eSetelah hampir dua tahun, melewati proses penjurian, penulisan, riset arsip, riset rilisan fisik, pemotretan dan penyuntingan, akhirnya Elevation Books secara resmi mengedarkan buku This Album Could Be Your Life: 50 Album Musik Indonesia Terbaik 1955-2015.\u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003e\u003cspan\u003eBuku ini bisa dikatakan yang pertama melakukan penilaian secara komprehensif terhadap album-album musik yang pernah dirilis selama 70 tahun sejarah industri musik populer di Indonesia, dari era label pribumi pertama Irama sampai Aksara.\u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e\n\u003cdiv id=\"jp-relatedposts\" class=\"jp-relatedposts\"\u003e\u003c\/div\u003e","brand":"Elevation Records","offers":[{"title":"Default Title","offer_id":50546209816815,"sku":null,"price":235000.0,"currency_code":"IDR","in_stock":true}],"thumbnail_url":"\/\/cdn.shopify.com\/s\/files\/1\/0699\/0240\/1775\/files\/buku-50-album-musik-terbaik-indonesia-1955-2015-grimlocstore-1-20260105032927.webp?v=1787052791"},{"product_id":"elevation-records-behind-the-8th-ball-copy","title":"Elevation Records - Behind The 8th Ball","description":"\u003cp\u003e\u003cmeta charset=\"utf-8\"\u003e\u003cspan\u003eCatatan pribadi almarhum Irfan Sembiring tentang album debut mereka dan juga sekaligus perjalanannya bersama Rotor. Diterbitkan oleh Elevation Books, dan ditulis saat proses perilisan ulang album klasik thrash metal lokal tersebut, sebelum beliau wafat. Recommended for any Rotor fans.\u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e","brand":"Elevation Records","offers":[{"title":"Default Title","offer_id":50546211127535,"sku":null,"price":91000.0,"currency_code":"IDR","in_stock":true}],"thumbnail_url":"\/\/cdn.shopify.com\/s\/files\/1\/0699\/0240\/1775\/files\/Rotor_8Ball_Buku-20260105034743.webp?v=1787052865"},{"product_id":"elevation-records-demi-masa-kapsul-waktu-dan-nostalgia-radikal-copy","title":"Elevation Records - Demi Masa, Kapsul Waktu dan Nostalgia Radikal","description":"\u003cp\u003eBuku ini membahas secara komprehensif warisan elan estetik dan juga pembangkangan para pentolan Situationist International; membentang di seantero Eropa sampai Amerika dari mulai skena hardcore-punk, elektronik, metal, folk, jazz, bahkan band-band di arus pop. Sebut saja Crass, Refused, The (International) Noise Conspiracy, Chumbawamba, Manic Street Preachers, The Stone Roses, This Bike Is a Pipe Bomb, hingga Stereolab, semuanya menyuling semangat Situ dalam karyanya. Tak terkecuali dengan Morgue Vanguard (MV) dan Doyz yang juga menghadirkan elan serupa di album Demi Masa—yang juntrungannya memang dari pentolan Situ.\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003eHal itu bisa kita teroka dari nomor “Sans Temps Mort” di album Demi Masa dan kutipan salah satu grafiti Paris ’68 di bagian sampul belakang album. Membahas Paris ’68 memang tidak hanya melulu berbicara ihwal rezim De Gaulle, Nanterre, Sorbonne, atau aksi pendudukan di Sud Aviation hingga pabrik Renault. Berbicara mengenai Paris ’68 adalah juga berbicara tentang Situationist International dengan pelbagai sumbangsihnya dalam lanskap seni radikal maupun gerakan revolusioner.\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003eLantas sejauh mana keterpengaruhan pemikiran maupun legacy Situ terhadap MV dan Doyz di album Demi Masa? Di lagu atau babakan mana saja elan Situ dirakit sebagai tulang punggung gagasan? Satu bab di buku C-45 Demi Masa, membahas sejauh mana sumbangsih para pentolan Situ merembesi petak-petak gagasan album Demi Masa.\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003ePada edisi cetakan kedua ini ada satu bab tambahan membahas “Garda Buckwild Nasional”, nomor yang hanya ada di Demi Masa versi vinyl. Sama halnya dengan nomor-nomor Demi Masa lain yang punya kecenderungan yang dominan terhadap bentuk nostalgia radikal, “Garda Buckwild Nasional” berupaya merengkuh semua fragmen masa lalu dengan tetap menyisakan lubang magasin untuk diisi amunisi di revolusi keseharian yang hari ini Doyz dan MV lalui.\u003c\/p\u003e","brand":"Elevation Records","offers":[{"title":"Default Title","offer_id":50546211651823,"sku":null,"price":80000.0,"currency_code":"IDR","in_stock":true}],"thumbnail_url":"\/\/cdn.shopify.com\/s\/files\/1\/0699\/0240\/1775\/files\/BUKU-C45-DEMI-MASA-FRONT_1750672278.webp?v=1787053003"},{"product_id":"elevation-records-tapeheads-copy","title":"Elevation Records - Tapeheads","description":"\u003cp\u003e\u003cmeta charset=\"utf-8\"\u003e\u003cem class=\"eujQNb\"\u003e\u003cspan\u003eTapeheads: Sejarah Hidup Kaset di Indonesia\u003c\/span\u003e\u003c!--TgQPHd|||[]--\u003e\u003c\/em\u003e adalah \u003cmark class=\"HxTRcb\"\u003e\u003c!--qkimaf fMaBOd_l\/HugV6--\u003e\u003c!--cqw1tb fMaBOd_l\/HugV6--\u003ebuku non-fiksi setebal 75 halaman yang diterbitkan oleh \u003cspan class=\"\"\u003e\u003ca class=\"H23r4e\" rel=\"noopener\" href=\"https:\/\/www.instagram.com\/elevation_books\/\" target=\"_blank\"\u003eElevation Books\u003c\/a\u003e\u003c!--TgQPHd|||[[\u0026quot;https:\/\/www.instagram.com\/elevation_books\/\u0026quot;,null,null,[null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,null,[{\u0026quot;1218\u0026quot;:[16]}]],16,null,\u0026quot;Elevation Books (@elevation_books) - Instagram\u0026quot;,\u0026quot;“Tapeheads” finally made its journey to the US. Photo by @habittrail ...\u0026quot;,\u0026quot;https:\/\/encrypted-tbn3.gstatic.com\/images?q\\u003dtbn:ANd9GcTErPyUvmd7_Yvuw9RM_-lCYUj3zA6Kp2RXhuJVG1yiV2Ew5fJHELYBqX0ysOFLNHcN2pTVLUGWMTOZd4E\u0026quot;,\u0026quot;Instagram\u0026quot;,\u0026quot;https:\/\/encrypted-tbn1.gstatic.com\/faviconV2?url\\u003dhttps:\/\/www.instagram.com\\u0026client\\u003dAIM\\u0026size\\u003d128\\u0026type\\u003dFAVICON\\u0026fallback_opts\\u003dTYPE,SIZE,URL\u0026quot;,[[1787053272803595,86904768,856726876],null,null,null,null,[[2,0,0,9]]],null,\u0026quot;eaf76c2a-32d7-43a4-ba8f-b372d37741ac\u0026quot;]]--\u003e\u003c\/span\u003e\u003c!--TgQPHd|||[]--\u003e\u003c\/mark\u003e. Ditulis oleh etnomusikolog David Novak dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Satria Nugraha, buku ini mengeksplorasi sejarah budaya dan siklus hidup kaset di Indonesia.\u003c\/p\u003e","brand":"Elevation Records","offers":[{"title":"Default Title","offer_id":50546214240495,"sku":null,"price":75000.0,"currency_code":"IDR","in_stock":true}],"thumbnail_url":"\/\/cdn.shopify.com\/s\/files\/1\/0699\/0240\/1775\/files\/BUKU-TAPHEAD-FRONT_1761287278.webp?v=1787053400"},{"product_id":"elevation-records-setelah-boombox-usai-menyalak-copy","title":"Elevation Records - Setelah Boombox Usai Menyalak","description":"\u003cp\u003e\u003cmeta charset=\"utf-8\"\u003e\u003cspan\u003eSemua tulisan di buku ini hanya memiliki satu benang merah; musik. Namun sama sekali bukan dalam kategori jurnalisme musik. Bukan pula bagian dari tradisi kritik musik yang belakangan marak. Bagi mereka yang pernah besar dengan fanzine pasti paham bahwa Ucok Homicide sama sekali bukan kritikus musik. Berangkat dari tradisi fanzine, tulisan tentang musik di sini tak lebih merupakan tulisan fandom. Tulisan seorang fans musik yang mencoba berbagi dengan sesama fans musik lain dan sama sekali bukan untuk konsumsi massa.\u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e","brand":"Elevation Records","offers":[{"title":"Default Title","offer_id":50546215813359,"sku":null,"price":100000.0,"currency_code":"IDR","in_stock":true}],"thumbnail_url":"\/\/cdn.shopify.com\/s\/files\/1\/0699\/0240\/1775\/files\/buku-SETELAH-BOOMBOX-USAI-MENYALAK-grimlocstore-1-20260105032209.webp?v=1787053480"},{"product_id":"elevation-records-lokasi-tidak-ditemukan-copy","title":"Elevation Records - Lokasi Tidak Ditemukan","description":"\u003cp\u003eTidak ada hal yang lebih menyedihkan dibandingkan terlalu mencintai musik pop dan kemudian pergi melakukan ziarah ke tempat-tempat yang pernah menjadi latar bagi perjalanan musik. Lokasi-lokasi itu tentu saja adalah CBGB, Rock and Roll Hall of Fame, Haight Ashbury atau Cafe Sin-E tempat Jeff Buckley pernah manggung.\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003eMengunjungi tempat-tempat tersebut menyedihkan karena Anda sudah membiarkan diri Anda menjadi bagian dari ritual ziarah layaknya diperintahkan oleh sebuah kepercayaan yang sudah mapan. Ini tragis karena agama, bahkan yang sekular pun, selalu akan meminta pengikutnya untuk taklid dan menjadi jumud. Untuk orang yang selalu mencari dan mencintai hal baru, ketundukan itu begitu menakutkan. Jim Morrison sudah mati hampir 40 tahun yang lalu dan kita masih tetap menziarahi makamnya.\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003eDi pertengahan tahun 2007, Taufiq Rahman dikutuk untuk melakukan perziarahan itu, meski bukan secara sengaja. Dia harus tinggal di Amerika Serikat, sebuah bangsa yang tidak memiliki kebudayaan adiluhung, selain budaya massa yang telah berhasil dicekokkan ke seluruh benak anak muda di dunia yang pernah sendiri di kamar, mendengarkan R.E.M. sambil kemudian membayangkan berkendara di pedalaman Midwest.\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003eSelama dua tahun, Taufiq mengalami mimpi ini dan hanya terbangun ketika tugas berat kuliah harus segera dikerjakan. Dan ketika tugas berat itu bisa ditinggalkan, perjalanan ziarah itu kadang bisa dilanjutkan. Tentu saja dia tidak pernah menemukannya.\u003c\/p\u003e","brand":"Elevation Records","offers":[{"title":"Default Title","offer_id":50546216173807,"sku":null,"price":90000.0,"currency_code":"IDR","in_stock":true}],"thumbnail_url":"\/\/cdn.shopify.com\/s\/files\/1\/0699\/0240\/1775\/files\/buku-mencari-rock-and-roll-sampai-15.000-kilometer-grimlocstore-1-20260105032922.webp?v=1787053900"},{"product_id":"elevation-records-pop-kosong-berbunyi-nyaring-copy","title":"Elevation Records - Pop Kosong Berbunyi Nyaring","description":"\u003cp class=\"article__text--dropcap\"\u003eEros Djarot mungkin bisa dikatakan sebagai proto-hipster Indonesia yang pertama. Bagaimana tidak, di awal tahun 1970an saja dia sudah berteman baik dengan Bambang Trihatmojo, anak tertua presiden Soeharto yang dengan sukarela menyediakan satu ruangan di rumah Jl. Cendana untuk latihan band. Jika Eros bermain di band The GIBS, maka Bambang bermain bersama The Crabs. Pulang dari sekolah di Jerman Barat pada tahun 1975, Eros langsung bisa bergaul dengan anak-anak muda binaan Guruh Soekarnoputra di band Gipsy dan Young Gipsy. Di rumah keluarga Saidi Hasjim Nasution (ayah dari Gauri, Keenan, Oding, dan Debby) di Jl. Pegangsaan 12, Menteng, Eros banyak berdiskusi soal van Gogh, Rembrandt dan Picasso, jika tidak sedang mendengarkan koleksi musik klasik Saidi. Sebelum itu, ketika masih sekolah teknik di Jerman Barat, Eros malah sibuk bermain di beberapa band padahal dia hanya punya bekal bermain gitar yang pas-pasan. Dan bisa dikatakan bahwa pergaulan itulah yang kemudian banyak membentuk Eros sebagai seorang musisi. Tapi, Anda juga harus membayangkan bahwa pada pertengahan dekade 1970an, Jakarta adalah kampung kecil di mana anak-anak muda yang kebetulan senang bermain musik bisa saling ketemu, menyapa dan berkolaborasi, sama seperti Harlan Boer bertemu Andi “Hans” Sabarudin dan membentuk C’mon Lennon di pertengahan dekade 2000an. Lihat juga bagaimana kemudian musisi-musisi kelas satu seperti Debby dan Keenan Nasution, Fariz RM dan Chrisye bisa bertemu di Pegangsaan dan bersekutu untuk menghasilkan mahakarya terbesar musik Indonesia, album\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003esoundtrack\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003efilm\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003eBadai Pasti Berlalu\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e(1977). Fariz bahkan hanya bermain drum di album ini, dengan sangat bagus tentunya.\u003c\/p\u003e\n\u003cdiv class=\"code-block code-block-1\"\u003e\n\u003cdiv class=\"lngtd-dynamic-inarticle lngtd-dyn-ph\" id=\"htlad-post-article-6\"\u003e\n\u003cdiv id=\"vice_D_inarticle_2-dyn3\" class=\"lngtd-dynamic-ad-container\"\u003e\u003c\/div\u003e\n\u003c\/div\u003e\n\u003c\/div\u003e\n\u003cp\u003eSebagai seorang hipster yang sok tahu, Eros juga dikenal bermulut besar, suka kritik sana sini dan salah seorang yang pernah menjadi korban kritiknya adalah sang maestro film Indonesia, Teguh Karya. Dan Anda kemudian tahu bahwa dari tiga album yang sempat direkam Eros, dua adalah\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003esoundtrack\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003euntuk film Teguh Karya. Setelah tiga album itu Eros berhenti menulis musik, lalu pindah haluan menjadi sutradara yang mampu menyamai Teguh Karya dalam pencapaian artistik. Dan sebagai\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003erenaissance\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003eman\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003esejati, Eros kemudian menceburkan dirinya ke arena politik praktis, meskipun karirnya di situ tidak secemerlang di dunia seni.\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003eAnda pasti mengira saya akan membahas album soundtrack\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003eBadai Pasti Berlalu\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003edi tulisan ini, sebuah mahakarya yang memang layak untuk terus dibahas dari sudut pandang manapun. Namun saya tidak akan melakukannya, dan lebih memilih tertarik menulis tentang cinta pertama saya, album\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003esoundtrack\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003eyang direkam Eros untuk film Teguh Karya yang dibuat dua tahun sebelum\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003eBadai Pasti Berlalu\u003c\/i\u003e. Entah kenapa, karya musik terbaik Eros justru dihasilkan untuk mengiringi sebuah film dengan kualitas sinematik yang biasa-biasa saja, bahkan untuk ukuran film-film Teguh Karya. Saya membayangkan bahwa ketika menulis musik, Eros berfikir tiga dimensi, membayangkan komposisi\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003escene\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003euntuk sebuah film dan menempatkan musik sebagai bagian dari keutuhan karya sinema tersebut. Mungkin ini yang membuat saya tidak begitu tertarik dengan album Barong’s Band lainnya, tanpa judul, yang dirilis pada waktu hampir bersamaan dengan album\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003eKawin Lari\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003edi tahun 1976. Jika album tanpa judul itu sedemikian disergap oleh persenyawaan musik progresif rock dengan musik klasik, maka\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003eKawin Lari\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003eterasa begitu ringan, ringkas, mengalir sejuk dan cemerlang dengan rasa yang sangat Indonesia.\u003c\/p\u003e\n\u003cp\u003eAgak sulit sebenarnya untuk bisa mendengarkan album\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003eKawin Lari\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003esecara keseluruhan dalam format audio yang layak. Rekaman ini nampaknya tidak pernah dirilis dalam format selain kaset. Mungkin ada beberapa keping vinyl yang pernah dikirim ke radio-radio swasta untuk kepentingan promosi, namun tidak pernah ada yang sampai ke pasar musik bekas. Internet juga tidak banyak membantu. Yang banyak ditawarkan sebagai unduhan gratis maupun audio yang ditayangkan di YouTube adalah salinan dari rilis kaset yang kebanyakan telah dimakan usia. Kaset yang saya miliki sebetulnya masih dalam kondisi layak, namun sangat sulit untuk mendapatkan kualitas suara yang prima dari pita kaset yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Namun bahkan dengan kualitas audio kelas dua ini,\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003eKawin Lari\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003etetap bersinar cerah. Malah dua komposisi tradisional, keroncong ‘asli’ Indonesia “Perahu Layar” dengan vokal Slamet Rahardjo Jarot dan “Stambul Kembang Mawar” hasil olah vokal Titi Qadarsih, mungkin akan kehilangan sihirnya jika diperdengarkan lewat hasil reproduksi dengan kualitas digital terbaik. Ada beberapa musik yang paling cocok didengarkan dalam format kaset,\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003eSengketa Keraton Demak\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003eoleh Johny Alexander dan\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003e\u003ci\u003eKawin Lari\u003c\/i\u003e\u003cspan\u003e \u003c\/span\u003eini adalah contoh sempurna. Ada beberapa kekonyolan khas format kaset di album ini, seperti lagu “Jakarta” diulang lagi di sisi B, mungkin untuk mengisi kekosongan sisa durasi pita, namun sebagaimana vokal Eros Djarot yang jauh dari sempurna, “kekurangan” tersebut justru membuat album ini kian romantis, seromantis cinta Eros untuk Jakarta.\u003c\/p\u003e","brand":"Elevation Records","offers":[{"title":"Default Title","offer_id":50546216435951,"sku":null,"price":75000.0,"currency_code":"IDR","in_stock":true}],"thumbnail_url":"\/\/cdn.shopify.com\/s\/files\/1\/0699\/0240\/1775\/files\/imageAction.jpg?v=1787054401"},{"product_id":"elevation-records-flip-da-skrip-copy","title":"Elevation Records - Flip Da Skrip","description":"\u003cp\u003e\u003cmeta charset=\"utf-8\"\u003e\u003cspan\u003eSejak awal 1990-an, telah begitu banyak karya musik bercorak hip hop dihasilkan oleh artis-artis Indonesia. Pelaku, pengamat dan penggemar juga telah begitu ramai memperbincangkannya di internet, sosial media dan ruang-ruang diskusi. Sudah begitu banyak pula korporasi, tim bola basket dan agen periklanan yang telah mendapatkan begitu banyak uang dari imaji-imaji tentang hip hop dan rap. Dan dalam kasus Homicide, sudah begitu banyak anak-anak muda yang terpantik semangat insureksi-nya. Yang belum pernah ada adalah sebuah catatan menyeluruh tentang genre musik yang juga sekaligus merupakan kultur unik yang sulit dipungkiri datang dari tempat yang asing, tempat yang spesifik dan rentang waktu yang tidak akan terulang lagi. Yang dilakukan Herry Sutresna di sini adalah mencatat, menata ulang dan menginterpretasi hip hop dari suatu masa dan satu tempat (Pantai Barat dan Pantai Timur Amerika Serikat) dan memberi konteks atas kehadirannya di dalam konteks besar epos hip hop. Di buku ini hip hop baru adalah kelanjutan dari yang lama, bahwa Afrika Bambataa tetap ada di musik Tyler The Creator dan Kendrick. Sejarah adalah hari ini. Hip hop is not dead. it just smells funny.\u003c\/span\u003e\u003c\/p\u003e","brand":"Elevation Records","offers":[{"title":"Default Title","offer_id":50546217222383,"sku":null,"price":120000.0,"currency_code":"IDR","in_stock":true}],"thumbnail_url":"\/\/cdn.shopify.com\/s\/files\/1\/0699\/0240\/1775\/files\/Book-Flip-Da-Skrip-grimlocstore-1-20260105032207.webp?v=1787054556"}],"url":"https:\/\/youknowstorejakarta.com\/ja\/collections\/elevation-records.oembed","provider":"You Know... Store Jakarta","version":"1.0","type":"link"}