Elevation Records - Pop Kosong Berbunyi Nyaring
Elevation Records - Pop Kosong Berbunyi Nyaring
Couldn't load pickup availability
Eros Djarot mungkin bisa dikatakan sebagai proto-hipster Indonesia yang pertama. Bagaimana tidak, di awal tahun 1970an saja dia sudah berteman baik dengan Bambang Trihatmojo, anak tertua presiden Soeharto yang dengan sukarela menyediakan satu ruangan di rumah Jl. Cendana untuk latihan band. Jika Eros bermain di band The GIBS, maka Bambang bermain bersama The Crabs. Pulang dari sekolah di Jerman Barat pada tahun 1975, Eros langsung bisa bergaul dengan anak-anak muda binaan Guruh Soekarnoputra di band Gipsy dan Young Gipsy. Di rumah keluarga Saidi Hasjim Nasution (ayah dari Gauri, Keenan, Oding, dan Debby) di Jl. Pegangsaan 12, Menteng, Eros banyak berdiskusi soal van Gogh, Rembrandt dan Picasso, jika tidak sedang mendengarkan koleksi musik klasik Saidi. Sebelum itu, ketika masih sekolah teknik di Jerman Barat, Eros malah sibuk bermain di beberapa band padahal dia hanya punya bekal bermain gitar yang pas-pasan. Dan bisa dikatakan bahwa pergaulan itulah yang kemudian banyak membentuk Eros sebagai seorang musisi. Tapi, Anda juga harus membayangkan bahwa pada pertengahan dekade 1970an, Jakarta adalah kampung kecil di mana anak-anak muda yang kebetulan senang bermain musik bisa saling ketemu, menyapa dan berkolaborasi, sama seperti Harlan Boer bertemu Andi “Hans” Sabarudin dan membentuk C’mon Lennon di pertengahan dekade 2000an. Lihat juga bagaimana kemudian musisi-musisi kelas satu seperti Debby dan Keenan Nasution, Fariz RM dan Chrisye bisa bertemu di Pegangsaan dan bersekutu untuk menghasilkan mahakarya terbesar musik Indonesia, album soundtrack film Badai Pasti Berlalu (1977). Fariz bahkan hanya bermain drum di album ini, dengan sangat bagus tentunya.
Sebagai seorang hipster yang sok tahu, Eros juga dikenal bermulut besar, suka kritik sana sini dan salah seorang yang pernah menjadi korban kritiknya adalah sang maestro film Indonesia, Teguh Karya. Dan Anda kemudian tahu bahwa dari tiga album yang sempat direkam Eros, dua adalah soundtrack untuk film Teguh Karya. Setelah tiga album itu Eros berhenti menulis musik, lalu pindah haluan menjadi sutradara yang mampu menyamai Teguh Karya dalam pencapaian artistik. Dan sebagai renaissance man sejati, Eros kemudian menceburkan dirinya ke arena politik praktis, meskipun karirnya di situ tidak secemerlang di dunia seni.
Anda pasti mengira saya akan membahas album soundtrack Badai Pasti Berlalu di tulisan ini, sebuah mahakarya yang memang layak untuk terus dibahas dari sudut pandang manapun. Namun saya tidak akan melakukannya, dan lebih memilih tertarik menulis tentang cinta pertama saya, album soundtrack yang direkam Eros untuk film Teguh Karya yang dibuat dua tahun sebelum Badai Pasti Berlalu. Entah kenapa, karya musik terbaik Eros justru dihasilkan untuk mengiringi sebuah film dengan kualitas sinematik yang biasa-biasa saja, bahkan untuk ukuran film-film Teguh Karya. Saya membayangkan bahwa ketika menulis musik, Eros berfikir tiga dimensi, membayangkan komposisi scene untuk sebuah film dan menempatkan musik sebagai bagian dari keutuhan karya sinema tersebut. Mungkin ini yang membuat saya tidak begitu tertarik dengan album Barong’s Band lainnya, tanpa judul, yang dirilis pada waktu hampir bersamaan dengan album Kawin Lari di tahun 1976. Jika album tanpa judul itu sedemikian disergap oleh persenyawaan musik progresif rock dengan musik klasik, maka Kawin Lari terasa begitu ringan, ringkas, mengalir sejuk dan cemerlang dengan rasa yang sangat Indonesia.
Agak sulit sebenarnya untuk bisa mendengarkan album Kawin Lari secara keseluruhan dalam format audio yang layak. Rekaman ini nampaknya tidak pernah dirilis dalam format selain kaset. Mungkin ada beberapa keping vinyl yang pernah dikirim ke radio-radio swasta untuk kepentingan promosi, namun tidak pernah ada yang sampai ke pasar musik bekas. Internet juga tidak banyak membantu. Yang banyak ditawarkan sebagai unduhan gratis maupun audio yang ditayangkan di YouTube adalah salinan dari rilis kaset yang kebanyakan telah dimakan usia. Kaset yang saya miliki sebetulnya masih dalam kondisi layak, namun sangat sulit untuk mendapatkan kualitas suara yang prima dari pita kaset yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Namun bahkan dengan kualitas audio kelas dua ini, Kawin Lari tetap bersinar cerah. Malah dua komposisi tradisional, keroncong ‘asli’ Indonesia “Perahu Layar” dengan vokal Slamet Rahardjo Jarot dan “Stambul Kembang Mawar” hasil olah vokal Titi Qadarsih, mungkin akan kehilangan sihirnya jika diperdengarkan lewat hasil reproduksi dengan kualitas digital terbaik. Ada beberapa musik yang paling cocok didengarkan dalam format kaset, Sengketa Keraton Demak oleh Johny Alexander dan Kawin Lari ini adalah contoh sempurna. Ada beberapa kekonyolan khas format kaset di album ini, seperti lagu “Jakarta” diulang lagi di sisi B, mungkin untuk mengisi kekosongan sisa durasi pita, namun sebagaimana vokal Eros Djarot yang jauh dari sempurna, “kekurangan” tersebut justru membuat album ini kian romantis, seromantis cinta Eros untuk Jakarta.
Share
